•  

    Januari 2012
    S S R K J S M
    « Sep    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  
  • Halaman

  • UNIVERSITAS Universitas Lambung Mangkurat http://www.unlam.ac.id/ Universitas Indonesia http://www.ui.ac.id/ Universitas Padjadjaran (UNPAD) http://www.unpad.ac.id/ Universitas Gadjah Mada http://www.ugm.ac.id/ Universitas Trisakti http://www.trisakti.ac.id/ Universitas Brawijaya http://www.brawijaya.ac.id/ Universitas Airlangga http://www.unair.ac.id/ Universitas Diponegoro http://www.undip.ac.id/ Universitas Tarumanagara http://www.untar.ac.id/ Universitas Gunadarma http://www.gunadarma.ac.id/ Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya http://www.atmajaya.ac.id/ Universitas Terbuka http://www.ut.ac.id/ Universitas Sumatera Utara http://www.usu.ac.id/ Universitas Katolik Parahyangan http://www.unpar.ac.id/ Universitas Jayabaya Jakarta http://www.jayabaya.ac.id/ Universitas Hasanuddin http://www.unhas.ac.id/ Universitas Islam Indonesia http://www.uii.ac.id/ Universitas Lampung http://www.unila.ac.id/ Universitas Muhammadiyah Malang http://www.umm.ac.id/ Universitas Bina Nusantara http://www.binus.ac.id/ Universitas Mercu Buana http://www.mercubuana.ac.id/ Universitas Sebelas Maret http://www.uns.ac.id/ Universitas Paramadina http://www.paramadina.ac.id/ Universitas Tanjungpura Pontianak http://www.untan.ac.id/ Universitas Kristen Petra http://www.petra.ac.id/ Universitas Mulawarman http://www.unmul.ac.id/ Universitas Katolik Soegijapranata http://www.unika.ac.id/ Universitas Negeri Yogyakarta http://www.uny.ac.id/ Universitas Pasundan http://www.unpas.ac.id/ Universitas Kristen Duta Wacana http://www.ukdw.ac.id/ Universitas Sriwijaya http://www.unsri.ac.id/ Universitas Merdeka Malang http://www.unmer.ac.id/ Universitas Riau http://www.unri.ac.id/ Universitas Kristen Indonesia http://www.uki.ac.id/ Universitas Udayana http://www.unud.ac.id/ Universitas Katolik Widya Mandala http://www.wima.ac.id/ Universitas YARSI http://www.yarsi.ac.id/ Universitas Andalas http://www.unand.ac.id/ Universitas Muhammadiyah Yogyakarta http://www.umy.ac.id/ Universitas Sanata Dharma http://www.usd.ac.id/ Universitas Kristen Maranatha http://www.maranatha.edu/ Universitas Pelita Harapan http://www.uph.edu/ Universitas Atma Jaya Yogyakarta http://www.uajy.ac.id/ Universitas Persada Indonesia YAI http://www.yai.ac.id/ Universitas Kristen Krida Wacana http://www.ukrida.ac.id/ Universitas Pendidikan Indonesia http://www.upi.edu/ Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah http://www.uinjkt.ac.id/ Universitas Muhammadiyah Jakarta http://www.umj.ac.id/ Universitas Syiah Kuala http://www.unsyiah.ac.id/ UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA http://www.uksw.edu/ Universitas Ahmad Dahlan http://www.uad.ac.id/ UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 http://www.untag-sby.ac.id/ Universitas Sam Ratulangi http://www.unsrat.ac.id/ Universitas Jember http://www.unej.ac.id/ Universitas Muhammadiyah Surakarta http://www.ums.ac.id/ Universitas Negeri Jakarta http://www.unj.ac.id/ Universitas Bengkulu www1.rad.net.id/Hi-Ed-Net/unib.htm Universitas Mataram www1.rad.net.id/Hi-Ed-Net/unram.htm Universitas Islam Bandung http://www.unisba.ac.id/ Universitas Islam Sultan Agung http://www.unissula.ac.id/ Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta http://www.upnvj.ac.id/ UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA http://www.unesa.ac.id/ Universitas INDONUSA Esa Unggul http://www.indonusa.ac.id/ Universitas Dian Nuswantoro http://www.dinus.ac.id/
  • kroni

    More Photos
  • Komentar Terakhir

    Fenomena Buku Laris:… on Fenomena Buku Laris: Unpr…
    teje21 on Binhad Nurrohmat:Solzhenitsyn:…
    BINHAD on Binhad Nurrohmat:Solzhenitsyn:…
    Sasa on Penjaga Ingatan Melawan L…
    teje21 on Jelang Olimpiade 2008

Binhad Nurrohmat:Solzhenitsyn: Gairah Agung dari Gulag

Solzhenitsyn: Gairah Agung dari Gulag

Oleh Binhad Nurrohmat

Solzhenitsyn (1911-2008) telah menuliskan yang mesti dikenang manusia, dan kematian sastrawan itu kian menghidupkan pesan: misi kemanusiaan dalam kesusastraan selamanya melekati ingatan dunia, dan tak sebatas ihwal tragedi Gulag, sebuah genre penjara amat keji ’’karya besar’’ rezim totaliter Sovyet di masa kekuasaan Stalin yang oleh Solzhenitsyn dalam sebuah suratnya disebut sebagai ’’pria brengosan’’ itu. Kesusastraan Solzhenitsyn menorehkan percikan-percikan keluhuran dan kedalaman pengertian dari sejarah panjang kezaliman kekuasaan di negerinya, tanah Rusia.

Kemasyhuran kesusastraannya amat mencekam dan bergaung hingga melintasi negerinya bukan lantaran Solzhenitsyn menuliskannya di atas tumpukan jerami busuk yang jadi pembaringannya bertahun-tahun di Gulag ataupun di tempat lain. Ia menulis dari kedalaman batinnya dengan penuh gairah ihwal keluhuran yang menembus sekat kemanusiaan di mana pun, yaitu tentang (seperti tergurat di novelnya) ’’garis pemisah antara kebaikan dan kebatilan yang melintas di tengah semua hati manusia’’.

Solzhenitsyn meninggal di rumahnya, di Troitese-Lykovo, di pinggiran Moskwa, Rusia, jauh setelah kematian Stalin, ’’pria brengosan’’ itu. Salah seorang putra sang sastrawan peraih Nobel Sastra 1970 itu, Stephan Solzhenitsyn, berkata saat mengabarkan meninggalnya sang ayah: ’’Dia masih bekerja seperti hari-hari sebelumnya. Tapi, saat malam, kematian datang amat cepat.’’

Menjelang ujung hidupnya, Solzhenitsyn masih sibuk menyiapkan karya lengkapnya yang berjumlah 30 jilid, termasuk The Gulag Archipelago yang telah membuyarkan dukungan kaum cendekia Sayap Kiri di Eropa terhadap Stalin dan juga novel tentang seorang tukang kayu yang disekap di Gulag One Day in the Life of Ivan Danisovich yang diberi izin terbit oleh penguasa Sovyet Khruscev guna menelanjangi kekejaman rezim Stalin yang berkuasa di Sovyet sebelumnya.

Karya-karya Solzhenitsyn membuktikan daya kesusastraan membebaskan diri dari cengkeraman tangan besi kekuasaan yang bengis. Melalui karya-karyanya, dia membuat jutaan orang tahu, bahwa di lingkungan yang begitu membelenggu kesusastraan bisa hadir dan jadi simbol dan ekspresi martabat kemanusiaan yang tak menyerah. Di tangan Solzhenitsyn, kesusastraan menggerakkan kemanusiaan dan batin dunia dengan dilambari keteguhannya terhadap risiko yang bisa memberangus karya dan menyita hidupnya dengan mudah.

Karya Solzhenitsyn merupakan kesaksian yang berani (dan) membangunkan kesadaran manusia di mana pun bahwa betapa sempurnanya kejahatan sehingga manusia tak berdaya dan terpaksa membiarkannya meski terselenggara di depan hidung mereka. Spirit kesusastraan seperti inilah yang melantari kesusastraan Solzhenitsyn menggetarkan hati manusia, tak sebatas bagi mereka yang hidup di negeri beruang merah itu. Kesusastraan Solzhenitsyn dibesarkan oleh naluri kemanusiaan kolektif, bukan sekadar diagung-agungkan oleh olah wacana kritik kesusastraan belaka.

Hasil kesusastraan Solzhenitsyn itu merupakan buah pengalaman empiriknya selama menjalani masa perbudakan di Gulag. Kesusastraannya itu tercerahi kontemplasi yang dikerahkannya sampai merengkuh inti kemanusiaan serta menguraikan jejaring kompleksitas yang bersemayam di dalamnya. Solzhenitisyn jadi ’’mata sejarah’’ bagi kemanusiaan yang hendak diperbudak dan dilenyapkan demi mewujudkan cita-cita kekuasaan belaka.

Melalui karya-karyanya, sesungguhnya, Solzhenitsyn tak bermisi sekadar mengkritik atau membenci Stalin. Kemunculan karyanya lantaran ia tak bisa menahan keprihatinannya terhadap kemanusiaan yang lenyap dari diri manusia. Stalin tak jadi ancaman besar tanpa para antek yang memuja, menjilat, dan mendukung rezimnya. ’’Kawanan Stalin’’ inilah yang bernafsu merobohkan pagar pembatas kebaikan dan kebatilan itu untuk merayakan hasrat kezaliman dengan menumbalkan kemanusiaan. Kemanusiaan yang terancam oleh hasrat anti-kemanusiaanlah yang jadi inti dan menggerakkan kelahiran kesusastraan Solzhenitsyn sehingga bisa diwarisi dan dikenang bukan saja oleh bangsa Rusia.

Tapi, kenapa Gulag diciptakan di Siberia, bukan di tempat lain, dan kenapa pula Solzenitsyn yang menuliskannya jadi karya kesusastraan, dan bukan oleh sastrawan lain? Apakah tanpa rezim Stalin Gulag tak pernah muncul di muka bumi mana pun dan membunuh ratusan ribu manusia sebagai budak dan pekerja paksa?

Sejarah Gulag bukan semata sebuah nama penjara mengerikan bagi kaum pembangkang atau yang dianggap membangkang rezim Stalin. Gulag merupakan kisah panjang anti-kemanusiaan yang diselenggarakan oleh kekuasaan yang menjadikan manusia sebagai alat, tujuan, dan sekaligus korban. Gulag tak lagi jadi sebuah nama penjara belaka di Siberia yang beku dan berbahaya atau sebuah ’’gerinda daging’’ raksasa semenjak Solzhenitsyn menuliskannya. Gulag telah menjadi sebuah ruang kemanusiaan yang melahirkan dan menyimpan khazanah pengalaman lahiriah dan batiniah bagi (ke)manusia(an) yang tak terlupakan di hati jutaan orang yang mengalami atau mengetahuinya.

Gulag jadi satu kosa-kata baru bagi dunia dan juga metafor besar bagi kekejian setelah Solzhenitsyn menorehkannya jadi karya sastra. Mungkin, ada ’’gulag-gulag’’ lain di tempat dan masa lain yang belum tertuliskan atau akan terjadi kelak. Sebab, ketika anti-kemanusian jadi kanker yang menjalari tubuh kemanusiaan, hasrat ’’gulag’’ senantiasa hadir dalam bentuk yang lain untuk menggeroti kemanusiaan dengan cara amat mengerikan, seperti satir Solzhenitsyn yang menjadikan jenis penyakit mematikan itu sebagai metafor bagi fatalnya rezim Sovyet dalam novelnya Cancer Ward itu. Waspadalah! (*)

(Penyair, pemuka Majelis Kata Indonesia dan Bale Sastra Kecapi. Saat ini tinggal di Seoul, Korea)

Jelang Olimpiade 2008 Beijing

Bandara Beijing Diperketat

Beijing

Beijing

Menjelang pesta olahraga dunia, oliampiade 2008 yang bakal dihelat 8 Agustus 2008 di Beijing mendatang, pemerintah Cina memperketat bandara internasional Hongkong, Shanghai dan Beijing. Setiap turis yang berkunjung ke Hongkong dan beberapa Negara bagian, harus melewati pemeriksaan yang superketat..

——————————-

T Junaidi-BEIJING

——————————-

Terminal termegah yang baru di bandara Beijing secara resmi memang sudah dibuka. Kini bandara termegah yang mengadopsi gaya arsitektur beberapa bandara internasional dunia, sudah menerima penumpang sebelum kedatangan gelombang pengunjung untuk Olimpiade 2008.

Penerbangan pertama tiba dari Shanghai, Cina Timur, mendarat di Beijing Capital International Airport (BCA) salah seorang dari Jakarta mengatakan kepada Sumatera Ekspres bahwa kedatangan diterminal baru cukup mengagumkan. Seperti berada di dunia fantastic.

‘’Kita seperti berada dalam bola dunia raksasa. Semua dirancang sedekian menakjubkan. Ini merupakan impian Cina membangun image yang luar biasa bagi dunia. Bandara merupakan etalase sebuah Negara bisa dikatakan kaya atau miskin,’’ ujar Eko General Manager Radar Cirebon sesaat setelah tiba di bandara yang didominasi marmer berkelas tinggi dan rangka besi itu.

Sementara Sulaiman, tour and travel guide, yang merupakan penduduk asli Beijing mengatakan, terminal Beijing ini merupakan yang terbesar di dunia. Luasnya sekitar 170 kali luas lapangan sepakbola. Dengan kapasitas tampung diperkirakan 50 juta penumpang setiap tahunnya dan menjadi salah satu bandara penting dunia. Saat ini Bandara Beijing merupakan yang ke-9 tersibuk, namun diperkirakan kesibukan bandara ini akan meningkat pesat dengan dibukanya terminal baru. Setiap tahun, jalur lalu lintas udara Cina diperkirakan meningkat sekitar 10%.

Menuju bandara ‘impian’ itu, para turis dimanjakan dengan suasana kota modern dari atas jembatan layang bersusun empat dengan berbagai arah membentuk sebuah lingkaran yang indah. Dari atas jalan layang tersebut, terminal baru ini tampak seperti seekor naga yang sedang mengerami telurnya dalam sangkarnya baja. Naga merupakan perlambang penting bagi orang Cina. Sebab naga merupakan binatang tiga dunia, yaitu hidup di darat, di laut dan di udara. Bandara inipun dirancang oleh arsitek Inggris, Norman Foster dengan arsitektur modern yang tidak meninggalkan ciri khas Cina.

“Terminal ketiga dari Beijing Capital International Airport ini lebih besar dari lima terminal di Bandara Heathrow London. Semua turis mengakui, terminal baru Beijing sangat luar biasa. Ini mengadopsi berbagai terminal yang ada di dunia. Dan yang paling spesifik, kita tidak tahu. Ada yang mengatakan kerangka besinya yang terbanyak di dunia. Begitu juga kacanya. Ini merupakan bangunan terbesar di dunia dengan luas 1,3 juta m2,’’ ujar Sulaiman yang menemani rombongan tour Jawa Pos group hingga chek in di bandara yang dijaga ketat aparat kepolisian dan militer yang dilengkapi alat detector metal serta dijaga anjing pelacak untuk mengendus cairan peledak itu..

Pemerintah Cina, masih kata Sulaiman, mempekerjakan arsitek dari Eropa dan Australia untuk merancang desain proyek termegah itu untuk menghadirkan taste internasional menjelang pesta olahraga dunia. ‘’Sepuluh tahun yang lalu, Beijing mengagumi Jakarta. Tapi sepuluh tahun ke depan, berbalik Jakarta harus mengagumi Beijing. Ikon Cina seperti negara terbang dan Kota Terlarang. Bangunan ini dirampungkan kurang dari empat tahun,” ujar Sulaiman.

Pembangunan terminal bandara ini menelan biaya 27 miliar Yuan, dua kali lipat yang dikeluarkan pemerintah untuk membangun dan memperbarui sarana olahraga guna keperluan Olimpiade. Beijing menginvestasikan untuk proyek infrastruktur termasuk jalan, kereta bawah tanah, stadion dan terminal baru menjelang Olimpiade.

Perketat Kunjungan

Setiap kunjungan tak lepas dari pengawasan yang superketat. Pengawasan yang berlebihan ini memang membuat kurang nyaman bagi para turis yang dating. Tak sedikit rombongan tamu harus berurusan petugas jaga gara-gara paspor kurang rapih (ada yang terlipat). Akibatnya beberapa orang harus ditahan sejenak sembari menunggu pemeriksaan paspor.

Pemerintah Cina tampaknya memang mengkhawatirkan adanya penyusup teroris yang bakal mengacaukan pesta olahraga bergengsi dunia itu. Cina tidak ingin kecolongan dengan ancaman bom. Sehingga setiap pengunjung yang datang sebelum melewati bandara, dihadapkan pada pengumuman dilarang membawa parfum, korek api dan lain-lain.. Barang-barang cair ini dimungkinkan bisa untuk dijadikan bahan pembuat bom. Ini kedengarannya memang berlebihan sampai-sampai ada seorang pengunjung Indonesia harus digeledah dalam toilet gara-gara alat detector bunyin tak henti-henti. Setelah diperiksa, ternyata resleting celana dalam.

Pemeriksaan keamanan yang diberlakukan untuk menyambut Olimpiade 2008 ini mencakup pemeriksaan sampo, sabun cair, serta cairan lain yang dibawa pengunjung di lokasi pemeriksaan imigrasi. Petugas keamanan di seluruh sector, akan memberlakukan pemeriksaan itu untuk mengantisipasi bahan bom cair atau materi lain yang dapat digunakan bagi serangan teroris.

Staf keamanan yang terlatih secara khusus ditempatkan di beberapa sudut kota, untuk melakukan pemeriksaan tersebut. Pengunjung yang membawa sampo dan cairan pembersih tubuh lainnya diwajibkan untuk diperiksa oleh petugas keamanan. Dengan menggunakan indera penciuman mereka, para petugas keamanan akan memastikan cairan yang dibawa oleh pengunjung aman atau tidak. Tak sedikit pengunjung Indonesia harus merelakan barang-barang koleksinya itu dirampas petugas.

Tak hanya itu, seorang nenek Cina Singapora, yang membawa air mineral untuk membuat susu cucunya juga diperiksa. Sang nenek diperiksa dan dipaksa meminum setengah botol, setelah itu boleh dibawa. Ini dimaksudkan untuk meyakinkan kalau botol airmineral itu memang berisi air bersih yang bisa diminum, bukan racun atau bom cair.

Pemerintah Cina telah mengintensifkan pemeriksaan keamanan itu juga meliputi stasiun kereta api di Beijing yang sebagian besar di antaranya menjadi lokasi penyelenggaraan Olimpiade. Namun, langkah keamanan menjelang Olimpiade yang akan dibuka pada 8 Agustus mendatang ini dinilai warga setempat sangat berlebihan.

Catatan Perjalanan di Tiongkok

Shenzen Bersaing dengan Hongkong

Melonjaknya ekonomi Negara Tiongkok bisa dilihat dari Kota Shenzen. Kota yang berbatasan langsung dengan Hongkong ini mengalami perkembangan sangat pesat sejak 30 tahun terakhir dari semula kota sangat kecil dan miskin di masa revolusi Mao Tse Tung. Bahkan kota ini pun bisa disejajarkan dengan kemajuan Hongkong yang sudah lebih

dulu sebagai kota metropolitan. Berikut laporan perjalanan T Junaidi, Hilda Safitri, Karsono dan Henny dari Harian Sumatera Ekspres di Tiongkok.

———————————

Perjalanan menuju kawasan Shenzen ini memang sangat melelahkan sekaligus menyenangkan, meski cuaca di Tiongkok pada Juli lalu memasuki musim panas dengan suhu sekitar 38-40 derajat celcius. Namun kami bersama rombongan jurnalis Jawa Pos Group, yaitu Saverius Gordius Madur (Rakyat Merdeka), Eka Wahyu Setyaningsih, Varina Utami Sari, Mujianto (Jambi Ekspres), Eko Supriatmoko (Radar Cirebon), Junaidi (Rakyat Lampung), Desty Mulyati, dan Liris Vawina (Radar Lampung), tetap meneruskan perjalanan di bawah terik matahari.

Menyusuri kawasan Shenzen, meski sebagai kota industri, namun Shenzen juga memiliki tempat-tempat wisata yang wajib dikunjungi para wisatawan. Beberapa tempat wisata di kota Shenzen yang bersih dan asri itu, diantaranya Spendid China atau lebih dikenal dengan Window of the World, serta Culture Village, yang lokasinya sebenarnya tidak berjauhan.

Di Window of The World, kita bisa melihat bangunan-bangunan terkenal dan bersejarah di pelosok dunia. Bahkan, di tempat inipun ada lho miniaturnya Borobudur dari Indonesia. Perbandingannya kira-kira 1 : 4. Begitu melihat Borobudur di negeri orang, kita pun langsung bangga. Ternyata Indonesia ada di sana.

Memasuki gerbang arena Window of The World, kita akan disambut dengan miniatur dari Piramid Louvre yang terkenal di Perancis yang berbentuk limas segiempat dari kaca.

Memasuki lebih dalam, kita akan disambut air mancur yang menjulang tinggi, dan dibelakangnya berdiri patung-patung berornamen dari Benua Afrika berukuran besar. Dari sini, kita sudah bisa melihat puncak Menara Eiffel yang kesohor itu. Selain menara Eiffel, kita bisa melihat Piramid dan Spink dari Mesir, Taj Mahal dari India, kemudian Stamford Brigde dari Inggris, air terjun Niagara, dan masih banyak lagi bangunan terkenal lainnya.

Karena terlalu luas dan begitu banyak yang harus dikunjungi, kita bisa sampai seharian berada di Window of the World. Untuk bisa menghemat waktu, kita bisa naik kereta yang bisa berhenti di tiga tempat yang ditentukan, yakni di Gereja Cologne Jerman, di Piramid asal Mesir, dan terakhir di air terjun Niagara.

Sementara di kawasan Wisata Cultural Folk Village, kita akan menemukan beberapa semacam desa budaya yang diperuntukkan untuk pertunjukan dari berbagai wilayah di daratan Tiongkok. Jumlahnya tak tanggung-tanggung, ada 24 desa budaya yang menaungi 56 bangsa di Tiongkok.

Bahkan, disini kita bisa lho melihat pertunjukkan legenda Sun Go Kong dengan Biksu yang mencari kitab suci itu. Selain tentunya yang paling mengagumkan pertunjukan tari dan nyanyi secara marathon lebih dari satu jam dari berbagai daerah di Tiongkok. Pertunjukkannya sangat megah dan menghibur. Duduk di kursi yang cukup keras pun tidak terasa pegal.

Selain itu, yang tak kalah seru, ada pertunjukkan perang-perangan dengan menunggang kuda plus kungfu. Melihat pertunjukkan ini, rasanya tidak keliru jika dalam setiap film kungfu, pemainnya seperti memang sudah ahli. Tetapi yang kurang nyaman adalah bau kotoran kuda yang menyengat hidung. Bagi yang tidak terbiasa mungkin sudah mual-mual dan muntah.

Sementara itu, bagi wisatawan yang ingin berwisata agama, bisa mengunjungi kawasan Lotus Hill and Treasure Park In Garden yang berada di Kota Guangzhou. Kota ini bisa ditempuh dengan perjalanan bus dari Shenzen dengan waktu sekitar 4 jam.

Di kawasan wisata ini, kita bisa menemukan patung Dwi Kwan Im atau Dewi Kebajikan berukuran raksasa yang berwarna kuning emas. Patung dewi yang sangat dipuja ini menghadap ke Sungai Kuning. Di kawasan ini penduduknya kebanyakan hidup dari kunjungan orang yang memang ingin berwisata ziarah. Sehingga banyak sekali deretan rumah yang menjual peralatan sembahyang. (*/bersambung)

Misteri Pelepasan Timor-Timur

[ Minggu, 24 Agustus 2008 ]

Misteri Pelepasan Timor-Timur

Judul Buku : Pembantaian Timor-Timur, Horor Masyarakat Internasional Pengarang : Joseph Nevins

Penerbit : Galang Press, Jogjakarta

Cetakan : I, Juli 2008

Tebal : xxiii + 375 Halaman

Munculnya ide pelepasan Timor-Timur (Timtim) berawal dari dua opsi yang diajukan Presiden B.J. Habibi melalui referendum pada 27 Januari 1999. Opsi pertama memberi otonomi khusus kepada Timtim, dan kedua pemisahan Timtim dari Indonesia. Rakyat Timtim memilih opsi kedua, karena dinilai sebagai pilihan terbaik setelah mereka merasa disakiti selama 24 tahun oleh Indonesia.

Pada referendum 30 Agustus 1999, Timtim menyatakan merdeka dari Indonesia, hasil referendum diumumkan, dan rakyat Timtim lepas dari kuasa Indonesia. Begitu rakyat Timtim menyatakan keberaniaannya melepaskan diri dari belenggu Indonesia, kekerasan terjadi di mana-mana. Kelompok militer muncul di mana-mana, bikin onar, dan membantai orang-orang yang memperjuangkan kemerdekaan.

Pada masa itu, Timtim kembali ke ”titik nol”, kosong seperti tidak punya sejarah, nyawa manusia banyak tercincang layaknya ayam yang mau dipanggang. Baru tiga tahun kemudian, tepatnya pada 20 Mei 2002, Timtim resmi manjadi negara merdeka, dan mengubah namanya menjadi Timor Leste dengan bahasa resmi Portugal. Dengan meresmikan sebagai negara sendiri, kemerdekaannya diharapkan mampu memberi pencerahan baru terhadap masyarakat Timtim. Namun, kemerdekaan tidak semegah yang dibayangkan sewaktu mempertahankan dengan kucuran darah. Kemerdekaannya justru dirasakan oleh orang-orang di luar Timtim yang sengaja menyeting rakyat Timtim hidup dalam konflik.

Dengan status sebagai ”negara muda” yang stabilitas politik dan ekonominya masih sangat rentan konflik kepentingan, Timtim terombang-ambing menentukan arah masa depannya. Terlebih bila dikaitkan dengan tragedi masa lalu yang penuh darah dan pembantaian.

Buku ini mencoba memotret gejolak politik kepentingan yang terjadi sepanjang 1999 dan setelah Timtim menentukan hari kemerdekaannya. Kejahatan kemanusiaan yang pernah melenyapkan tanah Lorosae sampai saat ini masih bergentayangan dengan berbagai bentuk. Joseph Nevins, penulis buku ini, memaparkan secara gamblang kekacauan yang terjadi sebagai saksi dari insiden-insiden kekerasan pada 1999.

Komisi Penyelidik Pelanggaran Hak Asasi Manusia (KPP HAM) Timor-Timur yang dibentuk Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) melaporkan adanya persekongkolan yang menjadi dasar bagi aksi kekerasan yang kemudian terjadi secara sistematis dan meluas. Antara lain adalah gelontaran dana yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) pemda dan alokasi anggaran rutin pembangunan daerah dan dana jaring pengaman sosial (JPS) untuk membiayai pembentukan dan perekrutan anggota pamswkasrsa. Bukan hanya itu, TNI terbukti juga memasok berbagai persenjataan kepada milisi. Mulai jenis SKS, N-16, Mauser/G-34, granat, pistol, termasuk sejumlah senapan rakitan (hlm. xx)

Dalam catatan Joseph, pada September 1999 TNI dan milisi melakukan sejumlah pembunuhan, pembakaran rumah-rumah, pengusiran secara paksa terhadap warga Timtim yang memilih untuk merdeka dalam referendum yang dilaksanakan PBB. Setelah seperempat abad dalam pendudukan Indonesia, sekitar 1.000 sampai 2.000 warga sipil Timtim terbunuh hanya dalam beberapa bulan sebelum dan beberapa hari sesudah referendum 1999. Sekitar 500.000 orang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka dan lari mengungsi.

Namun, kasus yang paling menonjol dan sampai saat ini masih memberi embrio terjadinya konflik baru, antara lain pembantaian di Gereja Liguica, pembunuhan warga Kailako di Bobonaro, penghadangan rombongan Manuel Gama, eksekusi penduduk sipir di Boronaro, dan penyerangan rumah Manuel Carrascalao. Juga kerusuhan di Dili, penyerangan diosis Dili, penyerangan rumah Uskup Belo, pembakaran rumah penduduk di Maliana, penyerangan kompleks gereja di Suai, dan pembunuhan di Polres Maliana. Termasuk pembunuhan wartawan Belanda Sander Thoenes serta pembunuhan rombongan rohaniawan di Lospalos (hlm. xxii)

Joseph merekam sendiri tindak kekejaman yang tidak manusiawi secara langsung di Timtim. Dia berada di tengah kekacauan dan amuk massa pada 1999 itu. Bagi dia, semua tragedi menjadi sebuah pertanyaan dan gugatan reflektif ihwal carut-marut kemanusiaan yang terus terjadi di berbagai belahan dunia.

Bagi Joseph, buku ini menjadi sebuah media kritik dan evaluasi di tengah berbagai tragedi mengenaskan dunia yang terus terjadi tanpa henti. Penulis sadar bahwa tragedi yang terjadi di Timtim tidak bisa dipotret seutuhnya, secara sempurna, tetapi dia melihat bahwa tragedi itu harus disuarakan, agar menjadi keprihatian masyarakat dunia.

Di tengah maraknya tindak kekerasan, buku ini menjadi bahan renungan tersendiri bagi Indonesia. Meski Timtim sudah tidak lagi menjadi bagian dari Indonesia, sejarah tidak akan pernah melupakan bahwa Indonesia pernah mengobrak-abrik rakyat Timor-Timur.

Buku ini mungkin akan memerahkan telinga para petinggi TNI dan Polri, karena banyak informasi yang menelanjangi sepak-terjang tentara dan polisi selama bertugas di sana. Kejahatan kemanusiaan adalah derita bagi semua orang, dan semua orang bisa merasakan perihnya. (*)

*) Ainur Rasyid, Alumnus PP. Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, Madura

Cerpen Ratih Kumala

[ jawa pos Minggu, 24 Agustus 2008 ]

Keretamu Tak Berhenti Lama

Bel itu berbunyi empat ketukan dengan nada yang membosankan. Seolah lonceng bubaran sekolah, penghuni stasiun serempak menjadi awas dengan pengumuman yang akan diworo-woro setelahnya. Aku tengah terkantuk-kantuk ketika bel itu menyentak, menyadarkanku dari lelap yang belum lengkap.

Pengumuman dikumandangkan bahwa kereta api dari Bandung tujuan Stasiun Malang tiba di jalur tiga. Bagi para penumpang yang telah membeli karcis tujuan ke Malang harap bersiap-siap sebab kereta api tak akan berhenti lama. Dalam pengumuman itu tak lupa diingatkan agar orang-orang menjauh dari jalur kuning yang telah ditandai. Area aman untuk berdiri di dekat jalur rel, agar tak tersambar kereta lewat. Para porter tentu saja tak mengacuhkan pengumuman untuk menjauh dari jalur kuning. Mereka menyambar pintu kereta dengan kelincahan kaki yang terlihat lihai. Meski kereta tak berhenti lama, ada sebagian orang yang turun di Stasiun Tugu, Jogjakarta, ada pula yang naik menuju ke Malang. Ini berarti ada saja orang yang butuh jasa angkat-angkat barang bawaan.

Aku mulai sibuk menjajakan dagangan kepada penumpang lewat jendela-jendela, berharap ada saja orang yang menyempatkan diri untuk sekadar membeli oleh-oleh. Karak, intip, bakpia, atau nasi pecel bungkus, semua tersedia. Wajah-wajah berminyak dan separuh ngantuk mengintip dari balik jendela kereta. Tak mungkin aku curi-curi naik ke dalam gerbong kereta, pramugara kereta eksekutif galak-galak. Mereka akan mengusirku jauh-jauh agar tak mengganggu kenyamanan penumpangnya.

Aku bergeser menuju ke kepala gerbong. Dan seperti dugaanku, ”Ning! Ning!” sebuah suara berat memanggilku. Dari arah kepala kereta. ”Ada bakpia?” tanyanya. Pak Kasdi, masinis kereta dengan perut agak buncit dan kumis yang enggan tumbuh sekaligus enggan dicukur.

”Ada,” kataku cepat-cepat ke arah Pak Kasdi. Beberapa teman pedagang yang juga menjual bakpia dan berdiam tak jauh dari Pak Kasdi langsung menyumpah serapah. Aku menerima uang dan menukarnya dengan sekotak bakpia.

”Kembaliannya buatmu saja!”

Aku tersenyum. Aku sudah tahu, kok.

”Ayo, ikut!” ajak Pak Kasdi sambil menggodaku. Aku menggeleng. ”Bener, ndak mau ikut? Ayo! Naik kereta api…tut, tut, tut…,” goda Pak Kasdi lagi, kali ini sambil mendendangkan lagu anak-anak itu. Aku menggeleng lagi. Lalu pluit panjang disempritkan. Suara pengumuman terdengar lagi, kereta di jalur tiga segera diberangkatkan. Aku minggir, menjauh dari jalur kuning. Kupandangi kereta yang mulai bergerak, klakson kereta panjang dibunyikan. Aku tahu itu tanda ”sampai jumpa” untukku. Kulirik uang yang tadi diberi Pak Kasdi, selembar merah seratusribuan. Lumayan. Diam-diam dengan girang kusimpan uang itu di dalam beha.

Siang ini aku bisa memberi Dono, anakku, makan yang lebih enak. Mungkin dengan ayam bakar atau terik. Kugandeng bocah empat tahun itu menuju ke pangkalan becak. Becak suamiku ada di situ, tapi pengemudinya raib. Aku menoel seorang tukang becak yang sedang tidur di dalam becaknya sambil menutup mukanya dengan caping. Tukang becak itu terbangun sambil menyumpah-nyumpah sebab baru saja ia terlelap.

”Bojoku mana?”

Embuh!” jawabnya tak acuh, membuatku sebal. Tukang becak itu kembali meringkuk di kursi becaknya yang tak bisa dibilang nyaman. Toh ia tetap mencari posisi paling enak untuk sekadar istirahat.

Kulihat sekelompok tukang becak tak jauh dari situ sedang berkerumun sambil jongkok. Judi lagi, judi lagi! Aku benci bukan main dengan kebiasaan suamiku ini. Aku sudah menduga, pasti siang ini Mas Jarno tak bisa memberi kami uang untuk makan siang. Lelaki itu malah minta tambahan uang untuk bertaruh. Tentu saja kutolak mentah-mentah, kami cekcok sejenak. Lalu dipisah oleh seorang tukang becak di sana. Hutang setoran becak sudah menunggak tiga hari. Jika dituruti terus berjudi, kami benar-benar akan puasa. Biar! Kugendong Dono. Sambil jalan keluar, aku memegang-megang pangkal dada kiriku, kurasakan uang dari Pak Kasdi masih terselip di situ.

***

Sejak pertama aku mengenal Jarno, ia adalah lelaki kampung yang suka bergaya meski tukang becak. Ia menyediakan dana untuk membeli gel rambut, selain pakai kemeja dan kacamata hitam lengkap dengan sepatu kets bututnya. Aku merasa geli melihatnya ketika itu. Ketika aku memasuki 22 tahun, bapak dan ibuku mulai cerewet, menanyakan kapan aku akan menikah. Aku sadar betul, dengan usia yang semakin bertambah, aku cenderung menjadi beban bagi mereka. Maka ketika Jarno, yang beda lima tahun usia, mengutarakan keinginan untuk melamar, aku memperbolehkan laki-laki itu datang berbicara pada orang tuaku.

Meski sebelum menikah kami dekat cukup lama –sekitar satu tahun– ternyata waktu segitu tak cukup bagiku untuk mengenalinya. Ketika kami mulai berrumah tangga, sedikit demi sedikit perangai aslinya mulai terlihat. Selain berjudi, aku kadang menemukannya pulang ke rumah sambil teler. Kalau sudah begini, ia tak segan main tangan dan menyisakan bilur-bilur di pipi dan badanku. Aku ingin pulang ke rumah orang tua, tapi malu. Mau lari, lari ke mana? Tak ada tempat berlindung bagiku. Hingga pada suatu pagi buta, jam tiga pagi, ketika Jarno telah tiga hari tak pulang dan aku terus menunggunya di stasiun, ketika itulah kereta dari Jakarta tiba.

Aku tak akan melupakannya; Dono tidur meringkuk di bangku tunggu dengan jarit menutupi tubuh kecil anakku. Pluit panjang melengking dingin, melafalkan subuh yang tak bisa dibilang hangat. Aku terkantuk-kantuk ketika sebuah suara menegurku. Sosok berperut buncit berdiri di depanku. Pak Kasdi yang baru turun dari kereta membeli sebungkus nasi, meski kubilang itu bukan nasi baru, melainkan nasi kemarin sore. Sudah sekitar dua tahun aku mengenalnya. Ia kerap jajan daganganku.

”Biarin, saya lapar,” ujarnya waktu itu. Ia langsung memakannya dengan lahap, juga mengambil air botol untuk minum. Aku beramah-tamah sekenanya. Laki-laki ini kerap kulihat di stasiun, bolak-balik, turun-naik kereta.

”Pasti enak ya, naik kereta api bagus tiap hari,” komentarku.

”Kalau jadi penumpang enak, jadi masinis sih kerja!”

”Aku belum pernah naik kereta api eksekutif.”

”Sekali-kali naiklah!”

”Duit dari mana?” aku mencibir.

Lalu ujarnya, ”Naik kereta kalau aku jadi masinisnya, nanti kugratisi!” Aku tertawa kecil mendengar perkataan Pak Kasdi.

”Berapa?” tanyanya selesai makan.

”Tujuh ribu lima ratus, Pak.”

Pak Kasdi mengeluarkan selembar sepuluh ribuan, ”Nih, kembaliannya buat jajan anakmu.” Aku kesenangan. Pak Kasdi menusuk-nusuk giginya dengan batang korek api. ”Kamu kok ndak pulang, Ning? Kasihan anakmu tidur di sini.”

Ngejar setoran, Pak!” jawabku.

”Lah… setoran biar bojomu saja yang nyari toh!”

”Ya dua-duanya yang nyari setoran, Pak. Kalau cuma satu, bisa-bisa puasa. Wong dua orang saja masih lapar!” lalu aku terkekeh, terbiasa membicarakan perut kosong dengan kelakar. Pak Kasdi memandang sambil diam, ia tak tertawa sama sekali. Jelas ia tak menganggap leluconku lucu. Aku tak akan pernah lupa rasa salah tingkahku waktu itu. Tak pernah aku merasa rikuh sebegitu rupa.

”Ning, biar anakmu tidur di mess-ku saja ya!” ujar Pak Kasdi. Lelaki itu langsung mengangkat Dono tanpa menunggu persetujuanku. Tentu saja ini membuatku panik. Aku memohon untuk tidak membawa Dono, tapi Pak Kasdi bersikeras. Cepat-cepat kuminta temanku untuk mengawasi barang daganganku.

”Oalah Ning, Ning!” keluh temanku, ”kalau bojomu datang nyari kamu gimana?” Aku tak menjawabnya, mengikuti langkah Pak Kasdi dengan terburu-buru menuju mess yang letaknya tak jauh dari stasiun.

Lelaki itu merebahkan Dono di kasur. Ini kali pertama aku masuk ke mess pegawai kereta api. Sekali lagi kucoba membujuk Pak Kasdi untuk membawa Dono pergi, tapi laki-laki itu tak membiarkannya.

Pak Kasdi dengan santai melepas seragamnya, menggantungnya di pintu dan berganti kaos berkerah yang lecek tak diseterika. Aku hanya diam, memperhatikan ruangan asing dan anakku yang lelap sambil sekali-kali mencuri pandang pada Pak Kasdi.

”Bojomu jam segini di mana, Ning?”

”Paling mangkal di sekitar terminal. Kan gini hari banyak yang pakai becak di sana ketimbang di stasiun,” jawabku, dalam hati aku bilang; sudah tiga hari dia tak pulang.

Nganter lonte, maksudmu?”

Aku diam saja. Semua orang juga tahu bahwa tukang becak itu kerja sampingannya jadi mak comblang antara lonte, tamu, dan pemilik penginapan jam-jaman. Upahnya lebih besar ketimbang mengantar penumpang biasa, dan kalau beruntung bisa dapat ”jatah” seorang lonte. Entah gratisan dari tamu atau dari lontenya sendiri.

”Kamu ndak kasihan lihat anakmu toh, Ning?” tanya Pak Kasdi lagi, ia mengelus kepala Dono.

”Ya kasihan,” jawabku singkat, tapi mau gimana lagi, lanjut kalimatku dalam hati.

Kami diam, Pak Kasdi memandangiku. Aku seraya berdebar-debar. Tiba-tiba tangan Pak Kasdi mendekat ke rambutku dan membetulkan helai rambut yang jatuh di pipiku. Diselipkannya ke balik telinga kananku, membuatku semakin berdebar-debar.

”Ning…,” ujar Pak Kasdi lirih. Aku bisa mencium aroma tubuh laki-laki itu. Masam dan panas. Dua detik kemudian pipiku terasa geli sebab kumis jarang-jarang Pak Kasdi telah mendarat di situ. Bulu kudukku berdiri. Aku tak beranjak. Aneh, aku merasa nyaman. ”Ning…,” bisik Pak Kasdi lagi. Lelaki itu semakin berani, kali ini mencium bibirku. Aku mengira, Pak Kasdi akan merambah tubuhku, tapi dugaanku salah. Sebab Pak Kasdi kemudian hanya memandangi wajahku hingga dari luar terdengar suara ayam jantan berkokok dan samar hari yang hitam berubah jadi terang.

”Saya harus pergi, Pak.”

Pak Kasdi jeda sejenak, lalu jawabnya, ”Ya.”

Aku menggendong Dono keluar mess, jalan menuju stasiun.

***

Empat hari lewat, aku masih belum percaya dengan kejadian itu. Dan, setiap ingatan itu lewat, setiap kali pula jantungku berdebar kencang. Lebih dari itu, jika aku menutup mata, masih bisa kuingat dengan jelas aroma tubuh, ruangan asing, dan kulit bibir serta kumis tipis Pak Kasdi yang menempel di wajah.

Setiap kali Pak Kasdi datang, aku tahu laki-laki itu pasti akan menemuiku meski sejenak, meski kereta hanya berhenti sejenak. Aku jadi rajin menanyakan jadwal perjalanan yang ditempuh Pak Kasdi.

***

Entah siapa yang memulai, yang pasti para pedagang di stasiun dan tukang-tukang becak mulai kasak-kusuk dengan gosip aku pacaran lagi. Aku tak merasa pacaran lagi, tak pernah ada kejadian intim apa-apa setelah insiden di mess tempo lalu. Paling-paling, Pak Kasdi hanya mampir beli sesuatu dengan tidak mau diberi kembalian. Itu saja. Lebih dari itu, kami hanya mengobrol, tak pernah janjian di mana-mana. Awalnya, aku tak terlalu ambil pusing, meski aku tetap berbicara pada Pak Kasdi mengenai gosip-gosip itu.

”Ning, ikutlah denganku,” ujar Pak Kasdi lembut. Aku menatap Pak Kasdi, lalu menggeleng ragu. ”Anakmu ajak saja. Aku nanti yang merawat kamu.”

”Pergi?”

”Iya, pergi sama aku. Aku, cinta sama kamu, Ning,” ucapnya ragu.

”Cinta?”

”Cinta,” tegasnya.

Ah, tak mungkin. Tak mungkin! Aku mengelak berkali-kali dalam hati. Dia punya istri. Entah di kota mana, yang pasti di salah satu kota yang dilewati keretanya. Jika aku nekad, naik ke dalam keretanya ketika kereta itu berhenti sejenak, dengan berpura-pura menawarkan dagangan, tentu tak akan ada orang yang sadar. Tahu-tahu aku hilang begitu saja. Meski mungkin akan ada yang curiga dan bisa menduga bahwa aku pergi dengan Pak Kasdi. Jadi, tak mungkin, tak mungkin!

***

Jarno pulang, sambil mabuk (lagi). Ujarnya, ibu warung bilang aku membayar dengan uang seratus ribuan. Padahal aku tak pernah memegang uang seratus ribuan. Omongannya meracau, dan sampailah pada gosip hubunganku dengan Pak Kasdi. Ia menyumpah-nyumpah; membandingkan dirinya yang sopir becak dengan masinis kereta api, mengatai-ngataiku. Dia bilang seharusnya aku berterima kasih kepadanya yang sudah mengawiniku, karena tak ada laki-laki yang mau padaku selain dirinya.

Aku geram, sambil ketakutan aku berkata dengan nada tinggi, ”Kamu pikir aku tidak tahu, kamu sering ngelonte di terminal sana?!”

”Heh, aku ini tukang becak, patut kalau ngelonte. Kamu itu ayu juga enggak, sok ngelonte sama masinis!” balas Jarno.

Aku kalap, berteriak keras, ”AKU BUKAN LONTE…!” sambil menyerang lelaki itu. Lalu dengan kekuatan orang mabuk, Jarno memukulku keras. Aku tersungkur, tapi langsung bangkit lagi. Rahangku sakit tapi aku tak terima perlakuan kasarnya. Dengan cepat aku meraih pintu depan, keluar, lalu berlari sekencang-kecangnya. Ketika itu jam dua pagi, beberapa orang terbangun dan terlihat heran, berdiri di depan pintu rumah petak kami.

Aku terus berlari menuju stasiun. Pak penjaga pintu masuk kerkantuk-kantuk. Aku tahu, Jarno mencoba mengejarku, dan orang-orang mencoba menghentikannya. Ia mabuk dan kalap, semua orang tahu ia berbahaya. Ia tak terlihat di belakangku. Kakiku perih, kelihatannya berdarah, entah tadi aku menginjak beling atau kerikil tajam. Aku terus menuju ke toilet perempuan. Aku cuci muka, kulihat mata kananku mulai kebiruan. Seorang banci menegurku heran, lalu dengan kemayu ia memberikan tisunya.

Salah satu bilik toilet kumasuki, dan diam di sana sambil menangis. Kepalaku pening sekali. Tiba-tiba kudengar bel empat nada, pengumuman dilantangkan, kereta dari Jakarta tujuan akhir Solo tiba di jalur empat. Ini berarti penumpangnya akan cepat turun, dan kereta segera berangkat lagi melanjutkan perjalanan ke stasiun akhir di kota tetangga. Aku mencoba mengingat-ingat jadwal kereta Pak Kasdi. Apakah dia yang ada di situ?

Aku keluar dari toilet. Anak usia belasan tahun yang jaga toilet menyumpah-nyumpah karena aku tak membayar uang kebersihan. Aku tak peduli, langsung berjalan ke jalur empat. Dari kejauhan, kereta mulai mendekat, lalu berhenti. Aku berjalan ke arah kepala gerbong. Kucari-cari wajah Pak Kasdi, apakah dia di sini? Sebuah suara menegurku dari belakang, ”Ning?” Aku kenal betul suara itu. Pak Kasdi! Aku menujunya sambil menangis. Dia menyuruhku untuk mengendalikan diri, lalu memeriksa bengkak di wajahku.

”Ikutlah denganku!” ujarnya. Aku ragu. Bel empat nada berbunyi lagi, pengumuman dilantangkan lagi, kereta di jalur empat segera diberangkatkan. ”Ayo!” ajaknya lekas-lekas. Aku makin bimbang, yang terbayang dalam benakku wajah Dono. Anak itu tadi masih tidur di rumah. Pak Kasdi memegangi tanganku, katanya lagi, ”Ayo!”

Sedetik kemudian, kakiku sudah menjejak ke dalam gerbong. Kurasakan kereta bergerak. Samar dari kejauhan, kulihat Mas Jarno berjalan sempoyongan, tanpa daya memaksa kereta berhenti, dan Dono berjalan gontai di belakangnya sambil menangis. ***

Cerpen Gunawan Maryanto

[ jawa pos Minggu, 17 Agustus 2008 ]

T a m b i j u m i r i l

Sampailah Tambijumiril pada batas yang semula disangkanya tidak ada. Kenikmatan ternyata berbatas. Kebahagiaan punya garis tepinya sendiri. Dan, sesudahnya adalah kekosongan. Padang kehampaan yang belum lagi diketahui luasnya. Di sanalah sekarang Tambijumiril berada. Saudagar muda dari Benggala dengan kekayaan yang tak terhitung jumlahnya itu kini gelisah. Ia tak punya lagi mimpi yang mampu menggerakkan dirinya. Tak punya lagi mimpi yang memanggil-manggil –sebagaimana dulu ketika dirinya masih jadi orang kecil. Hari-harinya berlalu begitu saja. Lamban dan tanpa tekanan. Hambar dan tak menggetarkan. Ia seakan mati sementara kematian yang sesungguhnya belum memberi tanda-tanda kedatangannya.

Para budak yang berjumlah ratusan itu tentu tak akan paham, bahkan jika harus dijelaskan ribuan kali, mengapa juragan mereka yang luar biasa kayanya itu tak bahagia. Salah-salah malah dikira gila dan dianggap tak mensyukuri karunia Gusti Allah. Karenanya Tambijumiril memilih diam dan berdiam di kamar. Berhari-hari. Berminggu-minggu hingga suatu pagi ia keluar dan mengumpulkan seluruh dayang, pengawal, dan budaknya.

”Diamlah kalian dan dengarkan suaraku untuk terakhir kalinya. Selain sejumlah pengawal pilihan, kalian semua mulai hari ini kubebaskan. Pulanglah kalian ke Ngabesi atau carilah majikan yang lain di kota ini. Aku akan memberi masing-masing dari kalian pesangon yang cukup untuk bertahan hidup hingga beberapa tahun ke depan. Aku juga akan memberi surat keterangan bahwa kalian semua adalah pelayan pilihan yang sulit dicari bandingannya. Gunakan semua pemberianku itu sebaik-baiknya.

”Tentu kalian bertanya-tanya apa pangkal dari ini semua. Sejujurnya aku juga tak tahu. Kenapa berminggu-minggu aku mengurung diri dalam kamar juga tak mudah untuk kujelaskan kepada kalian. Simpan saja pertanyaan-pertanyaan itu sebagai bagian terakhir dari ingatan kalian tentangku. Siang ini juga aku akan pergi. Maka tinggalkanlah aku sebelum aku meninggalkan kalian. Buat kalian para pengawalku, jagalah seluruh harta milikku. Ambillah secukupnya untuk gaji kalian selama kutinggalkan. Dan, jika dalam sewindu aku tak juga pulang, bagikanlah seluruh hartaku kepada mereka yang membutuhkan. Selamat jalan. Semoga nasib baik selalu menaungi kita semua.”

Sebagaimana yang telah dikatakan, setelah menyelesaikan seluruh kewajibannya, Tambijumiril pergi. Seluruh pelayan dan budak tak kuasa melepas kepergiannya dengan hati ikhlas. Bertahun-tahun menjadi hamba seorang yang mulia membuat mereka tak bisa menerima begitu saja kenyataan yang begitu mengejutkan itu. Seperti mimpi buruk yang tak akan mau mereka ulangi sekali lagi. Mereka, dengan berbaris rapi di sepanjang jalan, melepas kepergian juragannya denga doa dan air mata yang tak habis-habis, bahkan ketika Tambijumiril sudah lama hilang dari pandangan mata. Warga Kota Benggala tak ketinggalan melepas salah satu warga mereka yang paling terpandang dan dermawan itu.

Juga bukan hal yang mudah bagi Tambijumiril. Perjalanan siang itu menjadi perjalanan terberat yang pernah dialaminya. Tapi di balik kesedihan yang mengharu biru itu, ia bisa merasakan kembali denyar kehidupan di dadanya. Ia bergetar oleh sesuatu yang menunggu jauh di depannya. Ada yang kembali memanggilnya. Entah apa.

***

Tapal batas Benggala baru saja dilewatinya dengan berat hati. Kota tercinta yang sekian lama membesarkannya itu seperti mencengkeram kuat-kuat sepasang kaki Tambijumiril di saat terakhir. Saudagar muda itu sempat berhenti cukup lama di batu besar tersebut. Bersujud. Uluk salam perpisahan. Kemudian kembali melanjutkan perjalanan.

Setelah padang datar luas yang hanya dipenuhi angin dan perasaan asing, Tambijumiril menginjakkan kakinya di tepi hutan Purwakanda. Purwa awal, Kanda cerita. Hutan di mana seluruh cerita bermula kata para tetua. Tambijumiril berhenti sekali lagi. Panggilan itu dirasanya seperti berasal dari sini. Dari kegelapan dan kewingitan hutan yang tak seorang pun pernah kembali jika berani masuk ke dalamnya. Dada Tambijumiril bergetar hebat. Jika memang takdirku berakhir di sini maka berakhirlah, batinnya, menggerakkan langkahnya kemudian. Dengan cepat tubuhnya lalu lenyap ditelan hutan. Tinggal angin menghapus bau tubuhnya dengan tak kalah cepat.

***

Sehari lagi sewindu akan lewat. Batas waktu yang telah ditetapkan Tambijumiril di hari keberangkatannya sudah hampir habis. Para pengawal yang menjaga rumah dan harta bendanya sudah demikian lelah berharap. Sama sekali tak ada pertanda bahwa majikan mereka akan kembali. Tak ada kabar tak ada mimpi yang membuat harapan mereka bisa bertahan lebih lama lagi. Para pengawal itu yakin harapan sekecil apa pun tetap butuh pijakan sekecil apa pun. Harapan tak bisa berpijak pada harapan yang lain. Ia butuh alasan, senaif apa pun.

Kini mereka mulai berkemas dengan hati yang berat –jauh melebihi saat Tambijumiril berangkat. Dikeluarkanlah seluruh harta benda yang selama delapan tahun mereka jaga dengan sungguh-sungguh. Lalu mereka bagi harta itu ke dalam ratusan –mungkin ribuan– peti kecil, siap untuk dibagikan ke seluruh warga Kota Benggala yang membutuhkan. Para pengawal itu mengerjakan semuanya dalam kediaman, dalam kebisuan yang sangat. Sementara sesungguhnya dalam batin mereka tengah berlangsung kesedihan yang hebat. Melepas harapan adalah sebuah kekalahan yang menyakitkan.

Di tengah hiruk-pikuk yang senyap itu mereka sama sekali tak menyadari kehadiran seseorang yang kehadirannya telah mereka tunggu sepanjang delapan tahun. Lelaki itu diam di sudut halaman, memperhatikan lalu-lalang para pengawal yang menumpuk peti-peti di muka pintu gerbang. Lelaki itu tetap diam hingga seluruh kesibukan itu berakhir. Tampaknya ia memang sengaja menunggu hingga para pengawal itu menyelesaikan tugasnya. Dan, ketika saat itu tiba, ketika para pengawal beristirahat di di teras rumahnya, ia datang menghapiri mereka, uluk salam sebagaimana biasa ia dulu menyapa mereka.

”Selamat sore, semuanya…”

Tak seorang di antara mereka yang bisa langsung mempercayai pengelihatannya. Tapi, tak berapa lama kemudian, kebisuan yang berlangsung sedari pagi pecah berantakan. Mereka bersorak melepas seluruh kesedihan selepas-lepasnya ke udara terbuka. Mereka bergerak hampir-hampir serempak untuk bersujud di kaki Tambijumiril.

Malamnya Tambijumiril mengumpulkan kembali mereka semua. Kepada mereka Tambijumiril membagi kisah petualangannya sepanjang delapan tahun. Ia bercerita dengan cepat, tak mau berpanjang-panjang, dan melebih-lebihkan kisah yang sebenarnya terjadi. Bahkan ia bercerita terlalu singkat untuk sebuah kisah sepanjang delapan tahun.

Pendeknya ia cuma bilang bahwa selama delapan tahun, entah bagaimana caranya, ia bertapa sungsang –dengan kepala di bawah dan kaki di atas– di bawah pohon randu di tengah hutan Purwakanda. Dan tepat di hari terakhir di batas janji yang diucapkan malaikat Jabarael datang membangunkannya.

”Kulup Jumiril, bangunlah dari tidurmu yang menggetarkan ini. Aku Jabarael datang membawa pesan dari Gusti Allah: Kau tak bisa menjadi raja diraja di muka bumi ini jika itu yang kau inginkan jauh di dalam hatimu. Kuasa itu tak akan jatuh di tanganmu sebab kau memang tak ditakdirkan menjadi raja, juga seluruh anak-turunmu kelak. Kau telah diberi kuasa atas ratusan budakmu, tapi tak akan lebih dari itu.

”Ikuti saja jalanmu. Masa depanmu memang telah pergi dari Benggala. Masa depanmu ada di seberang lautan, di kota bernama Mekah. Pergilah ke sana. Tapi jangan pernah bermimpi menjadi raja. Di sana kau akan bertemu dengan jodohmu. Dan kelak akan lahir dari rahim istrimu seorang lelaki jenaka yang sakti mandraguna. Jangan pula bermimpi ia kelak akan menjadi raja. Tidak, Kulup. Ia hanya akan menjadi sahabat raja, sahabat Wong Agung kekasih nabi yang akan lahir berbareng dengan kelahirannya. Ia akan menjadi sahabat sejati yang luar biasa dari seorang lelaki yang dinaungi bulan di setiap langkahnya.

Bangunlah. Sudahi tapamu. Para pengawalmu telah terlalu lama menunggumu.”

Para pengawal mendengarkan cerita Tambijumiril dengan saksama. Dada mereka bergetar mendengar cerita yang singkat namun luar biasa dahsyat itu. Mereka semakin bertambah hormat dan cinta pada junjungannya.

”Jadi bersiaplah, kalian semua. Kita akan segera berangkat menyeberangi lautan. Bawalah seluruh peti yang telah kalian tata di muka gerbang. Bagikan pada yang membutuhkan sepanjang perjalanan. Sisanya buat bekal kita selama perjalanan.”

Malam itu juga mereka berangkat menuju dermaga. Dengan harta yang berlimpah Tambijumiril tentu saja tak menemui kesulitan untuk memperoleh kapal beserta nahkoda berikut awak kapalnya.

Dan kemudian adalah lautan dan gulungan-gulungan ombak yang menidurkan, memabukkan, dan mengancam. Di langit bulan dan bintang bertahan setia memberi tengara. Tambijumiril menikmati malam dan perjalanan yang seperti diciptakan khusus untuknya. Kebahagiaan yang bertahun-tahun hilang dari dirinya seperti kembali lagi dalam wujud yang berbeda. Lebih segar lebih besar.

Tambijumiril tiduran di buritan. Menatap keheningan dan keluasan langit. Masa depan seperti tergambar dengan terang terwaca di sana. Meski hanya sejumlah tanda, tapi ada –dan sepertinya bermakna. Tambijumiril menerawang. Sedemikian jauhnya hingga jatuh tertidur. Bulan menghadirkan wajahnya yang begitu tenang. Nafasnya berhembus halus layaknya bayi di pelukan ibunya. Kapal terus melaju dengan gagah membelah gulungan-gulungan ombak. Membelah malam yang seolah tak akan pernah berakhir.

Tapi ketenangan tak pernah berlangsung begitu lama. Seperti kaca yang bisa pecah kapan saja. Begitulah. Tambijumiril tergeragap bangun. Sebuah mimpi mengguncang kesadarannya dengan keras. Beberapa pengawal yang mendengar igauannya segera mendekat. Nafasnya yang semula tenang sontak berdegub cepat. Mimpi Tambijumiril telah berakhir.

Segera setelah pulih kesadarannya ia membagi mimpinya.

”Sebuah cahaya melintasi malam dengan cepat. Seperti bintang jatuh. Tapi cahaya itu kian lama kian besar. Cahaya berwarna kuning emas yang menyilaukan mata.”

Seorang pengawal menyarankan Tambijumiril untuk mendatangi orang yang mampu membaca mimpi. Kebetulan orang itu tinggal tak jauh dari mereka. Di sebuah pulau kecil yang sebentar lagi akan mereka lintasi. Orang itu bernama Kanjulmukmin.

***

Kanjulmukmin sudah menanti kedatangan mereka di pintu rumahnya. Pendeta waskita itu menyambut seluruh rombongan Tambijumiril dengan tangan terbuka.

”Masuklah, Anakmas. Sudah lama pulau sepi ini tak kedatangan tamu. Lebih-lebih seorang yang mulia seperti Anakmas.”

Tambijumiril menyampaikan hormat yang sedalam-dalamnya. Lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah sang pendeta. Sementara sejumlah pengawal menanti di halaman.

”Mimpi Anakmas adalah mimpi yang luar biasa. Seluruh manusia berharap memiliki mimpi serupa itu.” Kanjulmukmin tanpa diminta langsung membaca mimpi Tambijumiril.

”Tentu saja maknanya akan berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Sebenarnya Anakmas tak perlu bersusah payah mendatangi pendeta tua di pulau sepi ini. Anakmas telah bertemu dengan malaikat Jabarael. Mimpi yang baru saja Anakmas alami adalah penegasan apa yang telah Anakmas dengar sendiri dari malaekat Jabarael.”

Tambijumiril mengucap syukur berkali-kali dalam hati. Pada Gusti Allah. Pada jalan terang yang telah terbuka di depan matanya. Pada kewaskitaan dan kerendahhatian Kanjulmukmin.

”Anak itu kelak akan mengagungkan nama Anakmas. Dia adalah seorang abdi dan prajurit yang gagah berani. Dia akan menjadi abdi dan sahabat setia dari seorang kekasih nabi. Dia juga seorang yang jenaka, nakal dan pintar berkelakar. Dan, maaf, Anakmas, dia juga seorang yang panjang tangan. Copet yang ulung. Ha-ha ha…”

Tambijumiril mengernyitkan dahinya mendengar kalimat terakhir sang wiku.

”Tenang, Anakmas. Ia tak akan menggunakan tangannya untuk perbuatan yang nista. Tapi begitulah adanya. Ia bukan copet sembarang copet. Umur lima tahun ia sudah bisa mencopet sambil duduk. Sepuluh tahun ia bisa mematahkan leher seorang raja tanpa seorang pun mampu melihatnya. Ia juga bisa melompati seluruh tembok yang pernah ada. Ia juga bisa berlari lebih cepat daripada angin dan tak seorang pun di atas bumi ini yang mampu menangkapnya. Dan, sekali lagi ia adalah seorang yang jenaka. Semua orang baik kawan maupun lawan akan menyukainya. Sudahlah, Anakmas. Tak perlu saya berpanjang lebar merentang masa depan. Saya tak punya kuasa apa-apa. Berangkatlah segera ke Kota Mekah.”

Tambijumiril menghaturkan sembahnya sekali lagi. Lebih dalam dan lebih lama. Sampai-sampai Kanjulmukmin menepuk bahunya beberapa kali agar sang saudagar segera menyudahi hormatnya yang dirasa berlebihan itu.

Lalu berangkatlah Tambijumiril berikut rombongannya melanjutkan perjalanan yang tertunda. Kali ini ia tak ingin menunda-nunda lagi. Ia ingin segera sampai ke Mekah. Sesegera mungkin.

***

Mekah adalah sebuah kadipaten kecil di bawah kekuasaan Kerajaan Yahman. Meski kecil ia adalah kadipaten yang agung dan diperintah oleh anak turun Nabi Ismail. Kala itu adalah masa pemerintahan Baginda Sim. Seorang adipati yang bijak dan rendah hati sebagaimana para leluhurnya. Meski bertubuh bungkuk ia adalah adipati yang luar biasa. Sembilan belas tahun sudah ia menggantikan kedudukan ayahnya, Baginda Abdulmanap.

Ada kisah kecil yang cukup menarik perihal cacat tubuh yang dimiliki Baginda Sim. Sewaktu lahir ia punya saudara kembar bernama Umiyar. Mereka lahir kembar dampit punggung dengan perut. Baginda Abdulmanap memisahkan keduanya dengan sebilah pedang. Akibatnya satu anak tubuhnya jadi condong ke depan, satunya lagi condong ke belakang. Melengkung lebih tepatnya.

Baginda Sim telah dikaruniai tiga anak. Pembayun perempuan benama Siti Mahiya. Sedang kedua adiknya lelaki bernama Alip dan Abdulmuntalip.

***

Dan kabar kedatangan saudagar dari seberang telah sampai di telinga Baginda Sim. Ia mendengar dari para punggawa dan prajurit bahwa saudagar tersebut bernama Tambijumiril. Ia juga mendengar laporan bahwa saudagar muda itu membagi-bagikan harta kekayaannya pada warga Mekah yang ditemuinya. Dan kini saudagar itu telah menunggunya di alun-alun. Baginda Sim buru-buru kepingin menemuinya. Ia tergetar juga penasaran, apa yang membuat Tambijumiril membagi-bagikan harta dan ingin bertemu dengannya.

Di tengah alun-alun Tambijumiril duduk menunggu seorang diri. Seluruh pengawal yang mengantarnya telah dibubarkan. Dan Baginda Sim tergetar sekali lagi oleh kehadiran Tambijumiril, seorang lelaki muda dengan tubuh yang memancarkan cahaya. Cahaya yang membuatnya jatuh cinta pada lelaki muda itu. Apakah ia jodoh dari Siti Mahiya yang selama ini dinantikannya?

Jogjakarta, 2008

Catatan: Kisah ini berangkat dari Serat Menak karya R. Ng. Yosodipur

Usia 50 Tak Halangi Madonna

[ Senin, 25 Agustus 2008 ]

Usia 50 Tak Halangi Madonna

Konser Dunia Dimulai, Bawa 3.500 Kostum

LONDON – Usia setengah abad benar-benar tidak menghalangi Madonna untuk beraksi. Memulai rangkaian konser besarnya, Sticky and Sweet, di Millennium Stadium in Cardiff, Wales, Inggris, kemarin (24/8), pelantun Material Girl itu menggebrak panggung dengan style yang menunjukkan bahwa dirinya masih Queen of Pop, meski sudah berusia 50 tahun.

Bintang kelahiran Bay City, Michigan, Amerika Serikat (AS), 16 Agustus 1958, itu tak hanya melantunkan tembang-tembang dari album terbarunya, Hard Candy. Namun, beberapa lagu lawas, seperti Like a Prayer, Into the Groove, dan Hung Up, ikut membahana di gedung pertunjukan yang menjadi lokasi pertama konser yang berlangsung hingga Desember tersebut.

Sang suami, Guy Ritchie, dan tiga anak pemeran Evita Peron dalam film layar lebar Evita itu ikut menikmati konser yang dibagi dalam empat sesi tersebut. Sesi pertama, Madonna mengambil alih panggung dengan mengenakan busana one-piece rancangan rumah mode Prancis, Givenchy. Dalam sesi itu, Madonna digambarkan sebagai gangster cantik era 1920.

Sesi selanjutnya menggambarkan Madonna yang kali pertama menginjakkan kaki di New York pada awal 1980-an. Kemudian, gaya gipsi dimunculkan. Terakhir, Madonna memilih tema rave yang terinspirasi budaya timur jauh.

Sebanyak 40.000 penonton mengelu-elukan namanya setiap kali Madonna selesai bernyanyi. Termasuk ketika penyanyi rap (AS) Kanye West, Britney Spears, dan Justin Timberlake ikut berduet secara tidak langsung lewat layar besar yang dipasang di panggung.

Meski tidak tampil langsung, penampilan bintang tamu dalam konser yang akan berlanjut ke Nice, Prancis, itu mampu membuat penonton terkesima. Misalnya, ketika image West muncul di panggung untuk duet Beat Goes On, Madonna mengejutkan penonton dengan muncul di panggung naik mobil vintage tanpa atap. Saat Spears membawakan lagu Human Nature dari layar yang seolah-olah lift, Madonna memainkan gitar.

Selain itu, Madonna menampilkan rekaman video untuk mengirimkan pesan politik. Beberapa tokoh, seperti Al Gore, Bono, Barack Obama, muncul dalam rekaman tersebut.

Tak banyak dialog yang keluar dari mulut pelantun 4 Minutes tersebut. Hanya, dalam satu kesempatan, pemilik 11 album itu bergurau dengan penonton. “Ini waktunya saya requests lagu,” katanya. Setelah mengatakan itu, dia langsung menyanyikan Express Yourself. Namun, sebelum tembang tersebut kelar, Madonna berubah pikiran. “Lagu sialan, bukan itu. Saya pilih lagu lainnya,” ujarnya lantang.

Dalam pertunjukan yang berlangsung kurang lebih dua jam tersebut, dia delapan kali berganti kostum panggung. Konser itu didukung 16 penari dan 12 personel band. Untuk kostum, Madonna dan timnya dikabarkan membawa 3.500 item fashion dari 36 desainer. Plus, beraneka ragam perhiasan bertatahkan Swarovsky senilai USD 1,9 juta (setara Rp 17, 7 miliar).

Lepas dari Wales, tur berlanjut ke Nice, selatan Prancis, pada 26 Agustus sebelum mengelilingi Eropa, AS, Kanada, Meksiko, dan Brazil. Konser yang awalnya hanya berlangsung 47 kali itu -saat ini dijadwalkan menjadi 50 kali penampilan- bakal berakhir di Sao Paulo, Brazil, pada 18 Desember. (tia)

Check out my Slide Show!

Check out my Slide Show!

Check out my Slide Show!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.